A Simple Way to be an Effective Manager

Ketika kita dipilih atau ditunjuk sebagai seorang manajer maupun pemimpin di dalam sebuah perusahaan atau kelompok maupun keluarga, terkadang kita sering kali menggerutu mengapa orang yang kita pimpin terkesan tidak mau menurut atau sulit diatur padahal kita sudah capek bekerja keras untuk mengatur segalanya, hal ini mengindikasikan bahwa model kepemimpinan yang kita jalankan selama ini tidak efektif. Tahukah anda, apa yang diperlukan ketika kita menghadapi situasi ini? Untuk memiliki kepemimpinan efektif, sesungguhnya yang perlu kita perbaiki adalah bagaimana kita menyesuaikan sikap kita terhadap orang yang kita pimpin tersebut agar dapat memimpin dengan efektif, dengan demikian dinamakan situasional leadership.

Ada empat model situasional leadership yaitu: S1 (Directive), S2 (Participative), S3 (Supportive), S4 (Delegative). Dan ada empat jenis member/team yang dipimpin yaitu: D1 (Beginner), D2 (Quitter), D3 (Reluctant participate), D4 (Delegative). Untuk lebih mudah dalam penerapannya mari kita lihat Tabel 1 berikut:

Tabel Situasional LeadershipBerdasarkan Tabel 1, ketika kita menemui member/team yang memiliki karakter D1 yaitu member/team yang sama sekali tidak memiliki kompetensi, komitmen dan kerja tim yang baik maka situasional leadership yang seharusnya kita terapkan adalah model S1 yaitu High directive dan Low Supportif (artinya bahwa kita harus memberikan arahan-arahan yang sangat detail dan keras (layaknya seorang mandor). Jika kita menemui kondisi D2 dimana team member hanya memiliki satu dari tiga kriteria maka, situasional leadership yang seharusnya kita terapkan adalah model S2 yaitu High directive dan High Supportif (artinya bahwa kita selain memberikan arahan yang detail kita juga harus turut ambil bagian agar pada akhirnya member atau team tersebut dapat meningkatkan ke-2 kriteria yang lain) model kepemimpinan ini adalah model kepemimpinan yang paling berat dan melelahkan. Jika kita menemui kondisi member/team sudah memiliki dua dari tiga kriteria, seharusnya kita menerapkan model S3 yaitu Low directive dan High Supportif (artinya kita harus lebih sering memberikan apresiasi atau pujian kepada team kita dengan tulus atas prestasi yang mereka raih, agar mereka lebih termotivasi dan merasa mendapat pengakuan diri). Nah kondisi D4 lah yang paling enak, dimana team member kita sudah memiliki ketiga kriteria, kita perlu memberikan kepercayaan kepada mereka sepenuhnya dengan sesekali memantau kinerja mereka dan kita dapat memikirkan rencana strategis lainnya.

Nah bagaimana caranya agar kita dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dalam team kerja? Ada tiga cara yaitu:

  1. Kenali, pelajari dan manage situasi team member. Kita harus mengenali satu persatu team member kita dan harus peka terhadap segala perubahan yang ada.
  2. Introspeksi diri. Kenali kelemahan diri.
  3. Berkolaborasi dengan rekan sekerja yang mempunyai gaya kepemimpinan yang fleksibel.

Bagaimana cara kita meningkatkan ketiga kriteria member team yang meliputi kompetensi, komitmen, dan kerja team akan dibahas pada artikel selanjutnya…… ;)

Artikel ini ditulis kembali oleh Ratna MD (Staf Pengajar Diploma IPB) intisari seminar PT. Terminix

Written by Ahli SDM Indonesia

Tags: , , , ,

11 Responses to “A Simple Way to be an Effective Manager”

  1. 1
    sjafri mangkuprawira Says:

    arikel menarik…yg sering dihadapi dalam prakteknya…setiap orang cenderung mengalami perubahan karakter…walau tidak dalam jangka pendek….nah untuk itu dibutuhkan pemantauan dan evalusasi kontinyu…sehingga rekam jejak personal dapat digunakan oleh sang pimpinan untuk menerapkan model atau gaya kepemimpinan tertentu…dan satu hal yg juga harus dipertimbangkan bahwa terkadang gaya sang pemimpin pun sukar ditebak oleh subordinasinya…..

  2. 2
    ratih Says:

    Iya Prof terimakasih masukannya, karakter itu sendiri saja sulit dipahami, apalagi jika sering berubah-ubah, apalagi kalau dalam satu pribadi terdapat banyak karakter/kepribadian – kompleks jadinya. Oleh karena itu, kedekatan dan komunikasi yang intensif sangat diperlukan dalam bekerjasama.

  3. 3
    indraj Says:

    terima kasih bu, tulisan ini sangat membantu saya.
    ngomong2, menelisik dari tulisan ini, saya ingin berbagi dengan ibu.

    ternyata memimpin suatu kelompok/organisasi ternyata sangat jauh berbeda dengan ketika mengajar. mungkin karena kapasitas kepentingan yang berbeda namun, meskipun demikian setidak-tidaknya rasa memiliki itu muncul dalam lingkungan tersebut.

    dulu ketika saya mengajar mahasiswa baru di unpad-karena memiliki kepentingan dan tujuan yang sama-saya tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika menghadapinya. namun, ketika memimpin organisasi dan kelompok, kepentingan masing2 menjadi prioritas masing2 orang.

    yang ingin saya tanyakan kepada ibu, adakah metoda yang tepat untuk diterapkan bila mengacu pada tabel diatas?
    (jika melihat tabel, nampaknya terletak pada d3 dan s3, namun pada kondisi kelompok saat ini terlihat muskil, terlihat masing2 anggota saling melempar tanggung jawab dan hanya ingin melihat hasil akhir serta bila ditegur mereka tidak merasa)

    terima kasih

  4. 4
    Kaswanto Says:

    GREAT article…

    It seems this topic I’d ever read before, but it explain in different ways….

    But, it’s truly a great articles…
    Thank you for summarize this from another source…

    I am waiting for another GREAT articles.

  5. 5
    ratih Says:

    Thanks for sharing, Indra.
    Jika demikian adanya, anggota tim tersebut memiliki kompetensi dan kerjasama namun kurang komitmen. Pendekatan terbaik adalah dengan cara meningkatkan partisipasi, peran utama anda adalah memfasilitasi dan berkomunikasi dengan anggota dalam berbagi pengambilan keputusan. Berunding dengan anggota dan menggunakan saran mereka sebelum membuat keputusan akan mampu meningkatkan komitmen / rasa memiliki terhadap keputusan yang dibuat bersama dan dilaksanakan secara bersama pula. Ketika anggota saling melempar tanggung jawab seperti yang anda ceritakan, maka kita perlu memaparkan masalah ke dalam kelompok dalam pertemuan dan bertindak sebagai fasilitator, mendefinisikan masalah dan batas-batas tanggung jawab yang harus dideskripsikan lebih jelas dan cukup menantang untuk mencapai tujuan bersama. Semoga bermanfaat. Salam – Ratih.

  6. 6
    ratih Says:

    Pak Kaswanto, Thanks for your kind words. Enjoy blogging.

  7. 7
    Peri Novi Says:

    terima kasih atas tulisan ini, karena saya menjadi intropeksi diri dalam belajar memimpin suatu divisi himpro.
    tetapi saya ingin menanyakan suatu hal, jika jika kita bertindak S1 sedangkan seorang team kita merasa tidak nyaman dan kesal. Lalu bagaimana menyikapinya?
    mhon ibu memberikan penjelasannya.
    terima kasih

  8. 8
    ratih Says:

    Dear Peri Novi, Model kepemimpinan S1 yaitu High directive dan Low Supportif lebih cocok diterapkan jika kita memiliki team yang sama sekali tidak memiliki kompetensi, komitmen dan kerja tim yang baik. Jika salah satu dari anggota tim anda merasa tidak nyaman dengan perlakuan itu, maka sangat dimungkinkan dia buka tipe D1. Jadi yang perlu kita lakukan adalah mengenal dahulu kompetensi, kemampuan komitmen, dan kerja tim dari orang2 yang kita pimpin, lalu kita terapkan gaya kepemimpinan yang sesuai (berdasarkan matriks tsb). Beda personal akan beda pula pendekatannya, bukan pemimpin yang memaksakan gaya kepemimpinannya.
    Regards – ratih MD

  9. 9
    yudhi wibowo Says:

    Bagus sekali de Ratih dalam penjabaran secara general relevansi antara seorang leader dgn subordinasinya. Tetapi seperti orang blg kdg penerapannya yg sulit dlm dunia kerja yang nyata.
    Mgkn sy bs sdkt ksh tmbhn kasus, dimana seorang leader memiliki subordinasi tetapi disaat bersamaan dia jg memiliki top leader yg bs lgsg berinteraksi dgn subordinasinya. Pada saat kriteria D4 sudah dicapai, pemberian kepercayaan pun kdg blm maksimal. Kenapa bs terjadi? Bs tolong dibantu, walaupun sy sndiri sbnrnya sudah ada bayangan jawaban untuk itu tetapi mgkn pendapat profesional dr de Ratih akan dpt lebih menguatkan untuk argumen saya. Terima kasih sebelumnya… :)

  10. 10
    Download Songs Says:

    Hi would you mind stating which blog platform you’re using? I’m going to start my own blog in the near future but I’m having a tough time choosing between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal. The reason I ask is because your design and style seems different then most blogs and I’m looking for something completely unique. P.S Sorry for getting off-topic but I had to ask!

  11. 11
    vied Says:

    artikel mantap, ijin merealisasikannya. tks

Leave a Reply