<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Maria Dhewi</title>
	<atom:link href="http://ratihmariadhewi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihmariadhewi.com</link>
	<description>Hai, I'm Ratih Maria Dhewi. Here, I would like to share my opinion about Leadership and Human Resources Management in our daily life</description>
	<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 11:51:22 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lead the Human Capital</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/lead-the-human-capital/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/lead-the-human-capital/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 23:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Human Capital]]></category>

		<category><![CDATA[capabilities and competencies]]></category>

		<category><![CDATA[human capital development]]></category>

		<category><![CDATA[knowledge management]]></category>

		<category><![CDATA[learning organisation]]></category>

		<category><![CDATA[managing people]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Today the way we consider human psychology and mental development is heavily influenced by the genetic sciences. But we now understand the importance of inherited characteristics.  Yet we are still unable to decide whether an individual&#8217;s personality and development, especially leaders, are more influenced by genetic factors (nature) or by the environment (nurture).
Research, relating to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-131" title="Human Capital" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/05/6-human-capital-300x262.gif" alt="Human Capital" width="300" height="262" />Today the way we consider human psychology and mental development is heavily influenced by the genetic sciences. But we now understand the importance of inherited characteristics.  Yet we are still unable to decide whether an individual&#8217;s personality and development, especially leaders, are more influenced by genetic factors (nature) or by the environment (nurture).</p>
<p style="text-align: justify;">Research, relating to identical twins, has highlighted how significant inherited characteristics can be for an individual&#8217;s life. But whether these characteristics are able to develop within the personality of an individual surely depends on whether the circumstances allow such a development. It seems that the experiences we have in life are so unpredictable and so powerful, that they can boost or over-ride other influences, and there seems to be plenty of research findings to confirm this.</p>
<p style="text-align: justify;">Furthermore, despite popular myth, leaders are not born, but they learn how to lead. Our actions and behaviours matter more than we realize. People who act as leaders understand that everything they do and do not do - is significant. The first job of those who act as leaders - whatever their title - is to convince others of the significance of their actions.</p>
<p style="text-align: justify;">Managing people in order to ensure that they do what they&#8217;re supposed to do is a necessary activity. Taking time to lead them to new levels of success is a significant accomplishment. Accomplishment begins with a simple commitment each day to improve the lives of those you interact with. The most effective way for those who act as leaders is to realize that a better question to ask oneself is &#8220;How can I best contribute?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">When we have unique skills and passions, we can have an even great impact if we look at the ways we can contribute that will do the best. By placing capabilities and competencies in a knowledge management framework, leaders are able to delve into their creation and development through human capital development. Human capital development activities comprising training, education, and development, fall under the broad rubric of knowledge management and are an aspect of the socialization process that creates an environment conducive to knowledge creation, adaptation and dissemination. Nowadays, many literatures reissue learning organisation to achieve competitive advantages. Those empirically tested model linking human capital development activities and measures of firm performance was developed through the creation and enhancement of capabilities and competencies.</p>
<p style="text-align: justify;">In conclusion, both nature and nurture have powerful effects in developing human capital. The way these factors interact requires the support and cooperation of a leader and others. To harness the power of others, we have to persuade them to follow our lead. To get others to follow us requires character, competence, and networking.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" /><!--Session data--><br />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/lead-the-human-capital/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengidentifikasi Kompetensi dan Komitmen dari Tim Kerja</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/mengidentifikasi-kompetensi-dan-komitmen-dari-tim-kerja/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/mengidentifikasi-kompetensi-dan-komitmen-dari-tim-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 09:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<category><![CDATA[kerja tim]]></category>

		<category><![CDATA[komitmen]]></category>

		<category><![CDATA[kompetensi]]></category>

		<category><![CDATA[meningkatkan kinerja tim]]></category>

		<category><![CDATA[tim efektif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Dari artikel sebelumnya kita telah mengetahui tipe anggota tim kita, nah bagaimanakah kita dapat mengetahui kriteria bahwa anggota tim sudah memiliki kompetensi yang cukup, komitmen, dan kerja tim yang baik?
Dalam kenyataannya, pemimpin yang lebih berorientasi pada karyawan dalam beberapa hal akan memberikan hasil-hasil yang lebih efektif. Ini tidak berarti pemimpin tersebut mengabaikan kebutuhan-kebutuhan produksi atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><img class="alignleft size-medium wp-image-128" title="Kerja Tim" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/05/5-kerja-tim-300x225.jpg" alt="Kerja Tim" width="300" height="225" />Dari artikel sebelumnya kita telah mengetahui tipe anggota tim kita, nah bagaimanakah kita dapat mengetahui kriteria bahwa anggota tim sudah memiliki kompetensi yang cukup, komitmen, dan kerja tim yang baik?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dalam kenyataannya, pemimpin yang lebih berorientasi pada karyawan dalam beberapa hal akan memberikan hasil-hasil yang lebih efektif. Ini tidak berarti pemimpin tersebut mengabaikan kebutuhan-kebutuhan produksi atau tugas dalam departemennya. Kepemimpinan yang berhasil menghendaki suatu pengertian yang mendalam terhadap bawahan. Oleh karena itu, menurut Peter Drucker (1979), pemimpin sangat perlu mengembangkan beberapa kecakapan:</span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #000000;"><strong>Obyektivitas</strong> terhadap hubungan-hubungan serta perilaku manusia. Maksudnya pemimpin harus memandang bawahan serta perilaku mereka secara obyektif, tanpa berprasangka dan tanpa emosi.</span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong>Cakap berkomunikasi</strong> di dalam perusahaan maupun masyarakat. Maksudnya pemimpin harus mampu berbicara dan menulis secara terus terang serta menyimpulkan dengan teliti pernyataan-pernyataan dari orang lain. Pemimpin harus mudah didekati, mengenal kelompok-kelompok dan pemimpin informalnya, menyeluruh memberitahukan tujuan dan berusaha untuk bekerja sama dengan orang lain.</span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong>Ketegasan.</strong> Maksudnya kemampuan untuk memproyeksikan diri secara mental dan emosional ke dalam posisi seorang pengikut. Kemampuan ini menolong pemimpin untuk memahami pandangan, keyakinan dan tindakan bawahannya.</span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong>Sadar akan diri sendiri.</strong> Maksudnya pemimpin perlu mengetahui kesan apa yang dibuatnya pada orang lain. Pemimpin harus berusaha untuk memenuhi peran yang diharapkan oleh para pengikut.</span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong>Mengajarkan.</strong> Maksudnya pemimpin harus mampu untuk menggunakan kecakapan untuk pedoman, dan pembetulan dalam pemberian petunjuk dengan contoh-contoh.</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Selanjutnya pemimpin diharapkan mampu mengidentifikasi anggota tim dengan melihat :</span> <span style="color: #000000;"><em></em></span></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #000000;"><em>Competency</em> : Memiliki kualifikasi, tepat dan cepat dalam      menyelesaikan tugas, <em>the right man      in the right pleace.</em> <em>Soft</em> atau <em>generic competencies</em> menurut      Spencer (1993) terdiri dari enam kelompok kompetensi, yaitu sebagai      berikut :</span></li>
</ul>
<blockquote style="text-align: justify;">
<ol style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #000000;">Kemampuan <strong>merencanakan dan mengimplementasikan</strong> (motivasi untuk berprestasi, perhatian terhadap kejelasan tugas, ketelitian, dan kualitas kerja, proaktif, dan kemampuan mencari dan menggunakan informasi).</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Kemampuan <strong>melayani</strong> (empati, berorientasi pada pelanggan).</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Kemampuan <strong>memimpin</strong> (kemampuan mempengaruhi, kesadaran berorganisasi, kemampuan membangun hubungan).</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Kemampuan <strong>mengelola</strong> (kemampuan mengembangkan orang lain, kemampuan mengarahkan, kemampuan bekerja sama dengan kelompok).</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Kemampuan <strong>berpikir</strong> (berpikir analitis, berpikir konseptual, keahlian teknis atau profesional atau manajerial).</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Kemampuan <strong>bersikap dewasa</strong> (kemampuan mengendalikan diri, fleksibilitas, komitmen terhadap organisasi).</span></li>
</ol>
</blockquote>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #000000;"><em>Commitment</em> :      <em>Hardworking</em>, <em>high motivated</em>, tepat waktu  dan      loyal<em>.</em></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><em>Teamwork</em> : Saling menghormati dan saling mengakui kompetensi, komunikasi antar anggota baik, dapat berbagi sumberdaya, sifat saling memiliki, transparan, kemampuan untuk meredam konflik.</span></li>
</ul>
<p><span style="color: #000000;">Lalu bagaimana caranya untuk dapat meningkatkan kinerja anggota tim kita agar dapat memenuhi kriteria tersebut ?</span></p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li><span style="color: #000000;"><strong><em>Competency</em></strong> : Memberikan      informasi yang relevan terhadap anggota tim, bangun kemampuannya untuk      melakukan tugas yang efektif (komunikasi, produk <em>knowledge</em>, area), pertahankan dan tingkatkan training-training      yang strategis.</span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong><em>Commitment</em></strong> : Membantu individu      menyadari kemampuan mereka (bangun komunikasi positif), membantu individu      untuk menyusun sasaran yang realistis dan menantang, dukung untuk      pencapaiannya, berikan rasa memiliki, berikan penghargaan atas      keberhasilan, memotivasi mereka untuk memiliki rasa keterikatan tujuan      dalam tim.</span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong><em>Teamwork </em></strong>: Berikan tanggungjawab      tim, alokasikan sumberdaya, memperkecil konflik dan tingkatkan kerjasama.</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /></p>
<p style="text-align: justify;"><!--Session data--><span style="color: #000000;">Semoga kedua artikel bersambung ini dapat menginspirasi para manajer dan pemimpin keluarga maupun organisasi untuk lebih efektif dalam memimpin, sehingga memimpin bukan saja hal yang menyenangkan dan anda semakin bijaksana <img src='http://ratihmariadhewi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p style="text-align: justify;">
<input id="gwProxy" type="hidden" /></p>
<p style="text-align: justify;"><!--Session data--></p>
<p style="text-align: justify;">
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" /></p>
<p style="text-align: justify;"><!--Session data--></p>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/mengidentifikasi-kompetensi-dan-komitmen-dari-tim-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>A Simple Way to be an Effective Manager</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/a-simple-way-to-be-an-effective-manager/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/a-simple-way-to-be-an-effective-manager/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 14:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<category><![CDATA[kepemimpinan efektif]]></category>

		<category><![CDATA[manajemen team]]></category>

		<category><![CDATA[manajer efektif]]></category>

		<category><![CDATA[model kepemimpinan]]></category>

		<category><![CDATA[situasional leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita dipilih atau ditunjuk sebagai seorang manajer maupun pemimpin di dalam sebuah perusahaan atau kelompok maupun keluarga, terkadang kita sering kali menggerutu mengapa orang yang kita pimpin terkesan tidak mau menurut atau sulit diatur padahal kita sudah capek bekerja keras untuk mengatur segalanya, hal ini mengindikasikan bahwa model kepemimpinan yang kita jalankan selama ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika kita dipilih atau ditunjuk sebagai seorang manajer maupun pemimpin di dalam sebuah perusahaan atau kelompok maupun keluarga, terkadang kita sering kali menggerutu mengapa orang yang kita pimpin terkesan tidak mau menurut atau sulit diatur padahal kita sudah capek bekerja keras untuk mengatur segalanya, hal ini mengindikasikan bahwa model kepemimpinan yang kita jalankan selama ini <strong>tidak efektif.</strong> Tahukah anda, apa yang diperlukan ketika kita menghadapi situasi ini? Untuk memiliki kepemimpinan efektif, sesungguhnya yang perlu kita perbaiki adalah bagaimana kita menyesuaikan sikap kita terhadap orang yang kita pimpin tersebut agar dapat memimpin dengan efektif, dengan demikian dinamakan <em>situasional leadership</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada empat model<em> situasional leadership</em> yaitu: S1 (<em>Directive</em>), S2 (<em>Participative</em>), S3 (<em>Supportive</em>), S4 (<em>Delegative</em>). Dan ada empat jenis member/team yang dipimpin yaitu: D1 (<em>Beginner</em>), D2 (<em>Quitter</em>), D3 (<em>Reluctant participate</em>), D4 (<em>Delegative</em>). Untuk lebih mudah dalam penerapannya mari kita lihat Tabel 1 berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-106" title="Tabel Situasional Leadership" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/04/4-tabel-situasional-leadership.jpg" alt="Tabel Situasional Leadership" width="883" height="271" />Berdasarkan Tabel 1, ketika kita menemui member/team yang memiliki karakter D1 yaitu member/team yang sama sekali tidak memiliki kompetensi, komitmen dan kerja tim yang baik maka <em>situasional leadership</em> yang seharusnya kita terapkan adalah model S1 yaitu <em>High directive</em> dan <em>Low Supportif</em> (artinya bahwa kita harus memberikan arahan-arahan yang sangat detail dan keras (layaknya seorang mandor). Jika kita menemui kondisi D2 dimana <em>team member</em> hanya memiliki satu dari tiga kriteria maka, <em>situasional leadership</em> yang seharusnya kita terapkan adalah model S2 yaitu <em>High directive</em> dan <em>High Supportif</em> (artinya bahwa kita selain memberikan arahan yang detail kita juga harus turut ambil bagian agar pada akhirnya member atau <em>team</em> tersebut dapat meningkatkan ke-2 kriteria yang lain) model kepemimpinan ini adalah model kepemimpinan yang paling berat dan melelahkan. Jika kita menemui kondisi member/team sudah memiliki dua dari tiga kriteria, seharusnya kita menerapkan model S3 yaitu <em>Low directive</em> dan <em>High Supportif </em>(artinya kita harus lebih sering memberikan apresiasi atau pujian kepada team kita dengan tulus atas prestasi yang mereka raih, agar mereka lebih termotivasi dan merasa mendapat pengakuan diri). Nah kondisi D4 lah yang paling enak, dimana team member kita sudah memiliki ketiga kriteria, kita perlu memberikan kepercayaan kepada mereka sepenuhnya dengan sesekali memantau kinerja mereka dan kita dapat memikirkan rencana strategis lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah bagaimana caranya agar kita dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dalam <em>team</em> kerja? Ada tiga cara yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Kenali, pelajari dan <em>manag</em>e situasi <em>team membe</em></strong><em>r.</em> Kita harus mengenali satu persatu <em>team member</em> kita dan harus peka terhadap segala perubahan yang ada.</li>
<li><strong>Introspeksi diri</strong>. Kenali kelemahan diri.</li>
<li><strong>Berkolaborasi</strong> dengan rekan sekerja yang mempunyai gaya kepemimpinan yang fleksibel.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana cara kita meningkatkan ketiga kriteria member team yang meliputi kompetensi, komitmen, dan kerja team akan dibahas pada artikel selanjutnya&#8230;&#8230; <img src='http://ratihmariadhewi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Artikel ini ditulis kembali oleh Ratna MD (Staf Pengajar Diploma IPB) intisari seminar PT. Terminix</p>
<h6 style="text-align: justify;"><span style="color: #ffffff;">Written by <a href="http://ratihmariadhewi.com/my-resume/">Ahli SDM Indonesia</a></span></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/a-simple-way-to-be-an-effective-manager/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sense of Competition versus Cooperation</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/sense-of-competition-versus-cooperation/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/sense-of-competition-versus-cooperation/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 14:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<category><![CDATA[better education]]></category>

		<category><![CDATA[competition]]></category>

		<category><![CDATA[cooperation]]></category>

		<category><![CDATA[good team worker]]></category>

		<category><![CDATA[useful adults]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Nowadays, some people think that a sense of competition in children should be encouraged. Others believe that children who are taught to cooperate rather than to compete become more useful adults. These views have beneficial and unbeneficial sides.
Parents should realize that to lead their children to be active in competitiveness make them more ambitious in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-70" title="Cooperation" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/04/4-cooperation-300x246.jpg" alt="Cooperation" width="300" height="246" />Nowadays, some people think that a sense of competition in children should be encouraged. Others believe that children who are taught to cooperate rather than to compete become more useful adults. These views have beneficial and unbeneficial sides.</p>
<p style="text-align: justify;">Parents should realize that to lead their children to be active in competitiveness make them more ambitious in two things. Those are performances in academic and career paths. The children will always try their best to be excellent in many ways. They tend to be creative, hard working and force themselves until the task is completed. They seem to always be perfectionist unless the environment does not support them. On the other hand, these children have their own idealism leading them to work individually and being selfish. They do everything even if it seems irrational to reach their ambitions.</p>
<p style="text-align: justify;">Unlike competitiveness, cooperating seems better. Children who are shaped to cooperate tend to be good organizers. They are good players in teamwork and try their best to overcome their weaknesses by collaborating. They act more tolerantly to their peers. They are sure to reach goals as a good team work.</p>
<p style="text-align: justify;">To sum up, parents have to be wise to know the capacity of their children, then encouraging them to be whatever they want to be. Parents are suggested not to push their ambitions to come true through their children. A better thing to do is to lead the children to be more beneficial for their surroundings by thinking as a good team worker.</p>
<h6 style="text-align: justify;"><span style="color: #ffffff;"><span style="color: #ffffff;">Written by: </span><a href="http://ratihmariadhewi.com/my-resume/"><span style="color: #ffffff;">Ahli SDM Indonesia</span></a></span></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/sense-of-competition-versus-cooperation/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Romantika Pendidikan</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/romantika-pendidikan/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/romantika-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 16:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan demokrasi]]></category>

		<category><![CDATA[romantika pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[rona wajah]]></category>

		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan berfungsi menyiapkan peserta didik agar mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan soft dan hard yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dinamika kehidupan dan perubahan yang cepat menuntut dunia pendidikan untuk mampu memahami situasi masa depan beserta kebutuhan-kebutuhannya.
Pemahaman tentang keadaan masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-65" title="Pendidikan" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/04/3-pendidikan-300x264.jpg" alt="Pendidikan" width="300" height="264" />Pendidikan </strong>berfungsi menyiapkan peserta didik agar mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan soft dan hard yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dinamika kehidupan dan perubahan yang cepat menuntut dunia pendidikan untuk mampu memahami situasi masa depan beserta kebutuhan-kebutuhannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemahaman tentang keadaan masa depan sangat penting sebagai latar depan dari segala kebijakan dan upaya pengembangan pendidikan masa kini dan masa depan. Pendidikan yang mampu mengantisipasi keadaan masa depan inilah yang dapat dikatakan sebagai pendidikan yang bermutu.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menghasilkan sebuah proses pendidikan yang bermutu maka perlu dirancang suatu sistem pendidikan yang mampu menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, menstimulasi dan menantang peserta didik untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik berkembang secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya adalah salah satu prinsip pendidikan yang demokratis.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama ini persepsi yang terjadi di masyarakat menganggap bahwa sekolah yang bermutu dapat dilihat dari prosentase kelulusannya. Sehingga sekolah berusaha meluluskan semua siswanya tanpa menghiraukan hasil Ujian Nasional. Maka terjadilah manipulasi nilai yang mencengangkan karena rentang nilai Ujian Nasional dengan ujian sekolah terlalu lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 2006 pemerintah menetapkan standar kelulusan pada angka 4,25, hal ini lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Hasil ujian memang menyebabkan angka ketidaklulusan yang cukup tinggi. Sebanyak 6.906 siswa tidak lulus, termasuk mereka yang telah diterima diperguruan tinggi negeri. Kebijakan menerapkan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan ternyata tidak berjalan lancar. Hal ini dapat dilihat dari besarnya penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan Ujian Nasional, usaha-usaha yang tidak jujur yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa saat ujian, serta ketidaksiapan siswa dan orang tuanya untuk menerima hasil Ujian Nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi tersebut perlu segera diperbaiki dengan kebijakan yang memotivasi untuk berkompetisi secara sehat antar siswa maupun kerjasama antar guru untuk bersama-sama mencapai kualitas. Ujian Nasional seyogyanya tetap perlu dilakukan dalam rangka menjaga mutu pendidikan secara nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilema diatas memang merupakan cermin dari romantika sistem pendidikan Indonesia selama ini. Pendidik memiliki kecenderungan menumbuhkan jiwa berkompetisi daripada mengarahkan untuk bekerjasama kepada anak-anak usia sekolah. Sejak usia dini anak diberikan beban pendidikan dengan kurikulum yang sangat padat dan melelahkan, cenderung memaksakan untuk menghafal semua teori dan rumus bukan untuk menstimulasi keingintahuan teori / rumus dasar, memberikan pengertian dan cara menganalisis. Jika anak tidak mampu melakukannya maka kemudian menanggung beban cap bodoh seumur hidupnya. Jika anak banyak melakukan kesalahan kemudian diberi gelar pembuat onar/trouble maker. Kondisi psikologis itu mengkondisikan seorang jiwa memiliki otak yang beku dan lidah yang kelu tapi ingin bebas dari cap negatif masyarakat. Hal ini memiliki efek domino yang kini menghiasi rona wajah bermasyarakat di Indonesia baik dalam dunia usaha, dunia pendidikan hingga instansi-instansi yang mengaku pelayan masyarakat. Menghalalkan segala cara selalu mendapatkan porsi dominan daripada bekerjasama untuk mencari solusi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="IT">Sebenarnya setiap anak memiliki salah satu ataupun beberapa dari sepuluh <em>multiple intelegence</em> (Gardner, 1990) berikut: logika matematik, linguistik, visual spasial, kinestetik jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensial dan spiritual. Salah satu saja dari bakat tersebut perlu disadari sebagai anugerah yang perlu dilatih untuk mencetak masterpiece dunia. Namun, sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih menomorsatukan logika matematik, dan menganggap bakat kepandaian lain sebagai anomali.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Prihatin dengan keadaan tersebut, baiklah adanya jika semua orang yang mengambil peran penting dalam mendidik bangsa saling bekerjasama untuk menghargai bakat dan menumbuhkan karakter suka bekerjasama, pro aktif, toleransi melakukan kesalahan, pengendalian diri, akhlak mulia, keterampilan soft dan hard serta spiritual keagamaan kepada anak didik kita, didalam setiap kurikulum dan ijazah kehidupan.</p>
<h6><span style="color: #ffffff;">written by </span><a href="http://ratihmariadhewi.com/my-resume/"><span style="color: #ffffff;">Ahli SDM Indonesia</span></a></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/romantika-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Don’t be sad and frustrated</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/don%e2%80%99t-be-sad-and-frustrated/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/don%e2%80%99t-be-sad-and-frustrated/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 13:56:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<category><![CDATA[caleg]]></category>

		<category><![CDATA[frustasi]]></category>

		<category><![CDATA[pemimpin amanah]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<category><![CDATA[quick count]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia baru pertama kali mengadakan pemilu langsung untuk para caleg (calon legislatif).
Menarik untuk terus dipantau, hasil quick count maupun hasil perhitungan sementara calon legislatif yang telah dilakukan oleh KPU nampak jelas bahwa partai-partai besarlah yang menduduki 5 peringkat teratas. Untuk dapat menduduki 5 peringkat teratas para pimpinan partai dan caleg-caleg tersebut tidak segan-segan untuk merogoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-56" title="Frustasi" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/04/2-frustasi-300x225.jpg" alt="Frustasi" width="300" height="225" />Indonesia baru pertama kali mengadakan pemilu langsung untuk para caleg (calon legislatif).</p>
<p style="text-align: justify;">Menarik untuk terus dipantau, hasil <em>quick count</em> maupun hasil perhitungan sementara calon legislatif yang telah dilakukan oleh KPU nampak jelas bahwa partai-partai besarlah yang menduduki 5 peringkat teratas. Untuk dapat menduduki 5 peringkat teratas para pimpinan partai dan caleg-caleg tersebut tidak segan-segan untuk merogoh kocek sampai dalam, demi kemenangan mereka di kursi legislatif. Betapa mahalnya ongkos politik di negara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi akankah ketika mereka sudah duduk di kursi legislatif di gedung MPR/DPR maupun di DPRD akan terus juga merogoh kantong, ide dan hati nurani sampai dalam juga demi kesejahteraan rakyat seperti yang dijanjikan sewaktu kampanye?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya rasa tidak&#8230;..(mudah-mudahan tidak semua, hanya kecenderungan).</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau memang tujuan mereka murni demi kesejahteraan rakyat banyak, mengapa seusai pemilu caleg banyak yang frustasi bahkan ada yang sampai bunuh diri?</p>
<p style="text-align: justify;">Mental dan moral bangsa seperti inilah yang perlu dibenahi oleh bangsa Indonesia&#8230;banyak yang berpikiran setelah meraih kursi DPR maupun DPRD adalah &#8220;<strong>its show time to get my money back&#8230;</strong>&#8221; mereka lantas lupa apa yang pernah menjadi janji-janji kampanye mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau mental dan moral bangsa terus begini bagaimana Indonesia bisa menjadi negara yang adil dan makmur seperti yang dahulu dicita-citakan oleh pendahulu bangsa ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Please think about it!</p>
<p style="text-align: justify;">Ini waktunya untuk merenung.. apakah kita sudah layak menjadi seorang pemimpin yang amanah. Jika setiap orang merenungi hal yang sama dan memandang jabatan sebagai tanggung jawab yang dijalankan dengan ikhlas dan sepenuh hati, mudah-mudahan kita bisa menjadi Negara yang merdeka sepenuhnya, merdeka dari jajahan bangsa sendiri.</p>
<h6><span style="color: #ffffff;">written by: </span><a href="http://ratihmariadhewi.com/my-resume/"><span style="color: #ffffff;">Ahli SDM Indonesia</span></a></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/don%e2%80%99t-be-sad-and-frustrated/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Harconas Hari Contreng Nasional</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/harconas-hari-contreng-nasional/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/harconas-hari-contreng-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 04:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<category><![CDATA[hari contreng nasional]]></category>

		<category><![CDATA[pelayan masyarakat]]></category>

		<category><![CDATA[pemimpin berkualitas]]></category>

		<category><![CDATA[sdm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lima hari berlalu semenjak Harconas (Hari Contreng Nasional) atau Pemilu Legislatif dilaksanakan, hangar-bingarnya sudah mulai tampak mereda. Hasil quick count dari beberapa lembaga menunjukkan beberapa partai besar masih mendominasi.
Namun yang mengejutkan adalah munculnya Partai Demokrat sebagai pemimpin sementara perolehan suara. Saya menganggap partai ini masih menjadi anak bawang karena baru dua kali ikut serta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-29" title="1-hari-contreng-nasional1" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/04/1-hari-contreng-nasional1.jpg" alt="Hari Contreng Nasional" width="250" height="220" />Sudah lima hari berlalu semenjak Harconas (Hari Contreng Nasional) atau Pemilu Legislatif dilaksanakan, hangar-bingarnya sudah mulai tampak mereda. Hasil quick count dari beberapa lembaga menunjukkan beberapa partai besar masih mendominasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang mengejutkan adalah munculnya Partai Demokrat sebagai pemimpin sementara perolehan suara. Saya menganggap partai ini masih menjadi anak bawang karena baru dua kali ikut serta dalam Pemilu namun sudah menunjukkan hasil yang terhitung luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari fenomena ini, banyak surat kabar menyimpulkan bahwa ini akibat dari tokoh yang berada dibalik semua ini, tak lain dan tak bukan adalah Presiden SBY. Cukup baiknya kinerja pemerintah sepanjang lima tahun belakangan ini ikut mendongkrak popularitas Demokrat. Berbagai klaim keberhasilan seperti program BLT, penurunan harga BBM dan Swasembada beras ikut mendasari meningkatnya kepercayaan rakyat untuk mencontreng partai benomor tiga-tiga ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari hal itu, seandainya memang partai ini bisa menjadi kampiun legislatif tahun ini, sudah siapkah SDM-nya dengan tugas berat melayani masyarakat. Lima tahun belum tentu cukup untuk mencetak kader-kader SDM partai yang mumpuni. Sejauh ini saya belum melihat kader Demokrat yang menonjol baik di bidang ekonomi, pendidikan, budaya, hankam dan lainnya, atau memang mereka bergerak di belakang layar?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka melayani rakyat, diperlukan pemimpin yang memiliki kualitas pelayanan luar biasa artinya siap untuk bekerja siang malam sampai kesejahteraan rakyat tercapai. Pemimpin sebenarnya memiliki dua kata dasar yang sangat penting, “pimpin dan mimpi”.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Pimpin adalah kata dasar yang positif dalam artian kata dasar aktif. Ini berarti seorang pemimpin harus proaktif dengan memiliki kualitas Melayani bukan justru ingin Dilayani.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Mimpi, sarat dengan banyak intepretasi namun bermakna penting sebagai salah satu kromosom yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin seyogyanya memiliki mimpi yang visioner, memiliki kepekaan dan intuisi, bukan impian janji-janji belaka. Seorang pemimpin harus mampu mengarahkan rakyatnya menuju kesejahteraan yang didambakan selama ini. Mampu meletakkan dasar yang kuat bagi pembangunan Negara yang berkelanjutan, sehingga siapapun yang melanjutkan tongkat kepemimpinan hanya tinggal meneruskan dan tidak harus memulai dari nol lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Harapan yang sangat besar memang disematkan kepada para calon pemimpin baru agar mampu membawa negeri tercinta ini menjadi salah satu Negara yang patut diperhitungkan di dunia. Semoga Harconas kali ini, mampu menyaring pemimpin dengan kualitas luar biasa, putra-putri terbaik bangsa yang rela melayani rakyat dengan hati.</p>
<h6><span style="color: #ffffff;">Written by: </span><a href="http://ratihmariadhewi.com/my-resume/"><span style="color: #ffffff;">Ahli SDM Indonesia</span></a></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/harconas-hari-contreng-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang di RatihMariaDhewi.Com</title>
		<link>http://ratihmariadhewi.com/selamat-datang-di-ratihmariadhewi-com/</link>
		<comments>http://ratihmariadhewi.com/selamat-datang-di-ratihmariadhewi-com/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 20:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sharing]]></category>

		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>

		<category><![CDATA[ratih maria dhewi]]></category>

		<category><![CDATA[sumber daya manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihmariadhewi.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, setelah beberapa lama membuat konsep dari website ini, hari ini, Kamis, tanggal 9 April 2009, RatihMariaDhewi.Com resmi berkumandang. Dan entah kenapa, ini bertepatan dengan hari Pemilu Legislatif 2009 (nggak janjian lho).
Secara sederhana, website ini hadir sebagai salah satu media ungkapan hati dan pikiran saya mengenai kejadian sehari-hari yang sering saya temui. Baik itu ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-6" title="Ratih Maria Dhewi" src="http://ratihmariadhewi.com/wp-content/uploads/2009/04/tianshi-012-150x150.jpg" alt="Ratih Maria Dhewi" width="150" height="150" />Akhirnya, setelah beberapa lama membuat konsep dari website ini, hari ini, Kamis, tanggal 9 April 2009, <a href="http://ratihmariadhewi.com">RatihMariaDhewi.Com</a> resmi berkumandang. Dan entah kenapa, ini bertepatan dengan hari Pemilu Legislatif 2009 (nggak janjian lho).<br />
Secara sederhana, website ini hadir sebagai salah satu media ungkapan hati dan pikiran saya mengenai kejadian sehari-hari yang sering saya temui. Baik itu ada kaitannya dengan kepemimpinan (Leadership) maupun manajemen sumber daya manusia (MSDM) yang menjadi interest saya saat ini. Bahkan juga kejadian yang tidak ada hubungannya dengan kedua hal tersebut.<br />
Semoga media ini dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dalam menuangkan segala gagasan dan ide serta sharing pengalaman. Saya sangat bersyukur bila ini bisa menjadi sumber inspirasi ataupun bahan diskusi bagi teman-teman pembaca.<br />
Happy Blogging..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihmariadhewi.com/selamat-datang-di-ratihmariadhewi-com/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
