Harconas Hari Contreng Nasional
Sudah lima hari berlalu semenjak Harconas (Hari Contreng Nasional) atau Pemilu Legislatif dilaksanakan, hangar-bingarnya sudah mulai tampak mereda. Hasil quick count dari beberapa lembaga menunjukkan beberapa partai besar masih mendominasi.
Namun yang mengejutkan adalah munculnya Partai Demokrat sebagai pemimpin sementara perolehan suara. Saya menganggap partai ini masih menjadi anak bawang karena baru dua kali ikut serta dalam Pemilu namun sudah menunjukkan hasil yang terhitung luar biasa.
Dari fenomena ini, banyak surat kabar menyimpulkan bahwa ini akibat dari tokoh yang berada dibalik semua ini, tak lain dan tak bukan adalah Presiden SBY. Cukup baiknya kinerja pemerintah sepanjang lima tahun belakangan ini ikut mendongkrak popularitas Demokrat. Berbagai klaim keberhasilan seperti program BLT, penurunan harga BBM dan Swasembada beras ikut mendasari meningkatnya kepercayaan rakyat untuk mencontreng partai benomor tiga-tiga ini.
Terlepas dari hal itu, seandainya memang partai ini bisa menjadi kampiun legislatif tahun ini, sudah siapkah SDM-nya dengan tugas berat melayani masyarakat. Lima tahun belum tentu cukup untuk mencetak kader-kader SDM partai yang mumpuni. Sejauh ini saya belum melihat kader Demokrat yang menonjol baik di bidang ekonomi, pendidikan, budaya, hankam dan lainnya, atau memang mereka bergerak di belakang layar?
Dalam rangka melayani rakyat, diperlukan pemimpin yang memiliki kualitas pelayanan luar biasa artinya siap untuk bekerja siang malam sampai kesejahteraan rakyat tercapai. Pemimpin sebenarnya memiliki dua kata dasar yang sangat penting, “pimpin dan mimpi”.
1. Pimpin adalah kata dasar yang positif dalam artian kata dasar aktif. Ini berarti seorang pemimpin harus proaktif dengan memiliki kualitas Melayani bukan justru ingin Dilayani.
2. Mimpi, sarat dengan banyak intepretasi namun bermakna penting sebagai salah satu kromosom yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin seyogyanya memiliki mimpi yang visioner, memiliki kepekaan dan intuisi, bukan impian janji-janji belaka. Seorang pemimpin harus mampu mengarahkan rakyatnya menuju kesejahteraan yang didambakan selama ini. Mampu meletakkan dasar yang kuat bagi pembangunan Negara yang berkelanjutan, sehingga siapapun yang melanjutkan tongkat kepemimpinan hanya tinggal meneruskan dan tidak harus memulai dari nol lagi.
Harapan yang sangat besar memang disematkan kepada para calon pemimpin baru agar mampu membawa negeri tercinta ini menjadi salah satu Negara yang patut diperhitungkan di dunia. Semoga Harconas kali ini, mampu menyaring pemimpin dengan kualitas luar biasa, putra-putri terbaik bangsa yang rela melayani rakyat dengan hati.
Written by: Ahli SDM Indonesia
Tags: hari contreng nasional, pelayan masyarakat, pemimpin berkualitas, sdm
April 16th, 2009 at 7:24 AM
Siapapun yang akan duduk di kursi panas pemerintahan juga wajib meneken kontrak politik dengan rakyat. Program-program apa yang telah mereka janjikan selama masa kampanye dan tenggat waktu realisasinya. Dengan demikian maka pemimpin punya kewajiban moral untuk menjalankan apa yang telah dimandatkan dan bertanggung jawab terhadap proses dan hasilnya
April 16th, 2009 at 8:23 AM
artikel menarik….intinya jadilah pemimpin yang melayani…ich dien…pada abad ke-5 SM,Plato berucap…..”kami memerintah demi kebaikan orang yang diperintah”…pemimpin sukses dia yang selalu memacu pengikutnya…dengan dorongan dan enerji yang dimiliki pemimpin….dalam konteks reformasi, yang dibutuhkan dari seorang pemimpin, dia yg memiliki visi dan pelaku perubahan itu sendiri……plus antara lain motivasi, ketegasan, komitmen, kegigihan, konsistensi, keyakinan diri, kepastian, stamina, empati,…..namun RENDAH HATI……nah perilaku yang terakhir inilah yang langka…..
April 16th, 2009 at 9:31 PM
Terimakasih mas Hino atas komennya.
Pemimpin memang harus menepati apa yang menjadi janji politiknya, bersatunya kata dan tindakan.
Terimakasih juga untuk Prof Sjafri Mangkuprawira,
Saya sendiri merasakan energi yang begitu besar dari seorang pemimpin ketika dipimpin oleh bapak. Seharusnya seperti itulah calon pemimpin yang akan duduk di pemerintahan, punya energi yang luar biasa untuk menggerakkan rakyatnya mewujudkan Visi pembangunan jangka panjang. Didukung serangkaian karakter pemimpin seperti yang bapak sampaikan.
April 18th, 2009 at 1:08 AM
artikel pertama yg menarik dan selamat “mengudara”. tetap semangat berkarya n berbagi ilmu. Sekali di udara tetap di udara!
April 20th, 2009 at 5:56 PM
i’ll make two comments on your writing:
1. SBY adalah figur yg mempunyai beberapa faktor teknis yang penting dalam executive, which are kharisma, kapabilitis, kewibawaan, dan kepercayaan oleh rakyat. Hal tadi itu dikolaborasikan sama 1 faktor politik, yaitu kemampuan dalam bargaining dalam parlemen. that makes SBY has a place in every people’s mind.
2. basically, kemampuan di atas aja gak cukup, butuh 1 faktor konstitusi yg harus dihadapi oleh seorang pemimpin, yaitu mengenal fungsi presiden dalam sistem presidensial itu sendiri, yaitu sbg kepala negara dan kepala pemerintahan.
kalau saja faktor no.2 itu tidak diindahkan, tentu aja skrg terbentuk executive heavy di indonesia, pdhal kan seharusnya harus ada mekanisme check and balances antara masin-masing lembaga tinggi negara
=)
April 22nd, 2009 at 1:01 AM
Thanks indeed for your comment, Agung.
Betul yg telah disampaikan, lepas dari pro n kontra, figur SBY saat ini dipandang cukup berhasil memproporsionalkan perannya.