Manajemen Intuisi
Ketika aku yakin & percaya.. dia & sesuatu itu milikku
Ketika aku menghargai imaginasiku
Ketika aku memilih menghormati suara hatiku
Ketika aku berani mengikuti intuisiku
Ketika cita-citaku adalah harga mati
Membuatku mencintai keputusanku, apa pun itu,
untuk kurealisasikan dan tak pernah kusesali.
Intuisi menjadi inspirasi yang menarik untuk diulas, sejalan dengan penelitian pengalaman penulis, bahwa proses berulang dari pembelajaran pengalaman-pengetahuan yang dialami akan tersimpan dalam bawah sadar yang suatu ketika secara spontan dan cepat akan digunakan dalam sebuah keputusan yang membutuhkan kecepatan dan ketajaman kepekaan karena waktu yang terbatas.
Apa itu Intuisi dan bagaimana terjadinya?
Intuisi atau yang disebut firasat, gut instinct, inner voice, hunch, dan natural feeling (Hayashi, 2001; Kotler, 2003; Hornby, 2005) merupakan proses bawah sadar yang lebih dikendalikan oleh otak kanan meliputi akumulasi pengetahuan, pengalaman, pembelajaran dari kreativitas dan berpikir rasional, sehingga membentuk petunjuk naluriah berupa imaginasi pola kejadian dan keyakinan. Dengan demikian, menuntun yang berangkutan untuk mengambil keputusan dalam tuntutan waktu yang cepat. Hal tersebut sejalan dengan kajian Simon (1987), Peirce (2000), Hayashi (2001), Klein (2002), Gladwell (2006) dan Kurnia (2010).
Perlukah mempercayai intuisi?
Ya, sangat perlu. Steve Jobs, CEO Apple, sangat mempercayai intuisinya di dalam membangun kerajaan bisnisnya sejak tahun 1976, ungkapnya: “your time is limited, so do not waste time living someone else’s life. Do not be trapped by dogma – which is living the result of other’s people thinking. Do not let the noise of other’s opinions drown out your inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary”. (Kurnia, 2010)
Memaknai hal tersebut, menyadarkan penulis merefleksikan gambaran abstrak intuisi sendiri yang menunjukkan jalan hidup saya hingga saat ini, dari memilih sekolah, universitas, beasiswa, pekerjaan, sampai pada pilihan-pilihan kecil maupun besar yang tidak terhitung. (Namun, intuisi terhadap pilihan pasangan hidup lah yang menurut saya paling sulit untuk dicerna
)
Awalnya sangat sederhana, Keyakinan adalah sebuah pilihan dari sejumlah logika yang ada, dimana kita ingin menghargai imaginasi yang kita ciptakan sendiri, menghormati suara hati yang dapat didengarkan dalam hening, berani mengikuti suara nurani tersebut, dan mengambil keputusan untuk merealisasikan tanpa pernah menyesalinya.
Hal tersebut memberi makna bahwa kombinasi intuisi dan analisis rasional serta keberanian mengambil resiko akan membuat kepekaan intuisi menjadi terasah dan semakin tajam. Hal itu yang akan membentuk keyakinan diri yang kuat dalam mengambil keputusan yang sangat beresiko sekalipun.
Tags: firasat, gut instinct, hunch, inner voice, intuition, keyakinan mengambil keputusan, manajemen intuisi, natural feeling
January 10th, 2012 at 1:54 PM
Karena semua manusia itu ‘Baik’ jika kita bisa melihat ‘Kebaikannya’.
Dan ‘Menyenangkan’ jika kita bisa melihat ‘Keunikannya’.
Namun, semua manusia itu akan ‘Buruk’ dan ‘Membosankan’,
jika kita Tidak Dapat melihat keduanya.
Sesungguhnya “Hati adalah Ladang”.
Tanamlah selalu dengan PERKATAAN dan PERBUATAN yang baik.