romantika pendidikan

ujian nasional

Romantika Pendidikan

PendidikanPendidikan berfungsi menyiapkan peserta didik agar mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan soft dan hard yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dinamika kehidupan dan perubahan yang cepat menuntut dunia pendidikan untuk mampu memahami situasi masa depan beserta kebutuhan-kebutuhannya.

Pemahaman tentang keadaan masa depan sangat penting sebagai latar depan dari segala kebijakan dan upaya pengembangan pendidikan masa kini dan masa depan. Pendidikan yang mampu mengantisipasi keadaan masa depan inilah yang dapat dikatakan sebagai pendidikan yang bermutu.

Untuk menghasilkan sebuah proses pendidikan yang bermutu maka perlu dirancang suatu sistem pendidikan yang mampu menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, menstimulasi dan menantang peserta didik untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik berkembang secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya adalah salah satu prinsip pendidikan yang demokratis.

Selama ini persepsi yang terjadi di masyarakat menganggap bahwa sekolah yang bermutu dapat dilihat dari prosentase kelulusannya. Sehingga sekolah berusaha meluluskan semua siswanya tanpa menghiraukan hasil Ujian Nasional. Maka terjadilah manipulasi nilai yang mencengangkan karena rentang nilai Ujian Nasional dengan ujian sekolah terlalu lebar.

Pada tahun 2006 pemerintah menetapkan standar kelulusan pada angka 4,25, hal ini lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Hasil ujian memang menyebabkan angka ketidaklulusan yang cukup tinggi. Sebanyak 6.906 siswa tidak lulus, termasuk mereka yang telah diterima diperguruan tinggi negeri. Kebijakan menerapkan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan ternyata tidak berjalan lancar. Hal ini dapat dilihat dari besarnya penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan Ujian Nasional, usaha-usaha yang tidak jujur yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa saat ujian, serta ketidaksiapan siswa dan orang tuanya untuk menerima hasil Ujian Nasional.

Kondisi tersebut perlu segera diperbaiki dengan kebijakan yang memotivasi untuk berkompetisi secara sehat antar siswa maupun kerjasama antar guru untuk bersama-sama mencapai kualitas. Ujian Nasional seyogyanya tetap perlu dilakukan dalam rangka menjaga mutu pendidikan secara nasional.

Dilema diatas memang merupakan cermin dari romantika sistem pendidikan Indonesia selama ini. Pendidik memiliki kecenderungan menumbuhkan jiwa berkompetisi daripada mengarahkan untuk bekerjasama kepada anak-anak usia sekolah. Sejak usia dini anak diberikan beban pendidikan dengan kurikulum yang sangat padat dan melelahkan, cenderung memaksakan untuk menghafal semua teori dan rumus bukan untuk menstimulasi keingintahuan teori / rumus dasar, memberikan pengertian dan cara menganalisis. Jika anak tidak mampu melakukannya maka kemudian menanggung beban cap bodoh seumur hidupnya. Jika anak banyak melakukan kesalahan kemudian diberi gelar pembuat onar/trouble maker. Kondisi psikologis itu mengkondisikan seorang jiwa memiliki otak yang beku dan lidah yang kelu tapi ingin bebas dari cap negatif masyarakat. Hal ini memiliki efek domino yang kini menghiasi rona wajah bermasyarakat di Indonesia baik dalam dunia usaha, dunia pendidikan hingga instansi-instansi yang mengaku pelayan masyarakat. Menghalalkan segala cara selalu mendapatkan porsi dominan daripada bekerjasama untuk mencari solusi.

Sebenarnya setiap anak memiliki salah satu ataupun beberapa dari sepuluh multiple intelegence (Gardner, 1990) berikut: logika matematik, linguistik, visual spasial, kinestetik jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensial dan spiritual. Salah satu saja dari bakat tersebut perlu disadari sebagai anugerah yang perlu dilatih untuk mencetak masterpiece dunia. Namun, sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih menomorsatukan logika matematik, dan menganggap bakat kepandaian lain sebagai anomali.

Prihatin dengan keadaan tersebut, baiklah adanya jika semua orang yang mengambil peran penting dalam mendidik bangsa saling bekerjasama untuk menghargai bakat dan menumbuhkan karakter suka bekerjasama, pro aktif, toleransi melakukan kesalahan, pengendalian diri, akhlak mulia, keterampilan soft dan hard serta spiritual keagamaan kepada anak didik kita, didalam setiap kurikulum dan ijazah kehidupan.

written by Ahli SDM Indonesia

Tags: , , ,

4 Responses to “Romantika Pendidikan”

  1. 1
    sjafri mangkuprawira Says:

    wah artikel bagus ini sebenarnya tepat dlm menyambut hardiknas 2 Mei…..pendidikan buat semua…yg bersinambung…dan ketika mutu sdm bangsa indonesia dipertanyakan maka apakah proses belajar mengajar selama ini lebih dipenuhi dengan porsi kepadatan pada ranah pengajaran ataukah pada pendidikan?….seharusnya seimbang…..

  2. 2
    indraj Says:

    artikel yang menarik!
    suatu kehormatan bagi saya untuk berbagi pemikiran dengan Ibu Ratih.
    tulisan ibu sangat menarik karena memiliki platform yang tepat dan jelas (spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan soft dan hard), saya suka itu.
    dan mengenai content pembahasan, memang tepat, manusia indonesia terlalu di tuntut untuk menguasai semua bidang sedari dini.
    mengenai multiple intelligence, saya rasa memang tepat bila dikelola sejak awal. karena otak masih fresh dan secara intuisi dapat memilih yang terbaik dan tepat untuk dirinya sendiri.
    menurut saya, radikalisasi pendidikan merupakan harga yang tepat untuk perbaikan sdm dimasa yang akan datang.
    dan -itu tadi- harus dengan platform yang tepat seperti yang Ibu tuliskan.

    semoga, kita dapat berbagi lebih dari ini.
    berkomunikasi dengan saya dapat melalui
    http://www.indra-jatmiko.co.cc
    http://www.brownsofacorridor.co.nr

    terima kasih bu,
    sukses selalu

    indra jatmiko, mahasiswa ekstensi manajemen

  3. 3
    ratih Says:

    Ya betul Indra, anak2 Indonesia terlalu di tuntut untuk menguasai semua bidang sejak dini, namun hanya permukaan/kulit2nya saja. Cenderung dalam kondisi dipaksakan dan sulit memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri. Namun belum terlambat jika saat ini kita mulai dari pribadi masing2.
    Saya sangat mengapresiasi terhadap kaum muda yang peduli dengan pendidikan.
    Salam.

  4. 4
    ratih Says:

    Terimakasih Prof Sjafri. Betul pak, mutu SDM memang perlu ditelusuri dari pendidikan dini yang diterimanya dan seorang akademisi seharusnya tidak hanya mengajar tapi juga mendidik.

Leave a Reply